Home » » Pondasi Eksisnya Hindu

Pondasi Eksisnya Hindu

PONDASI EKSISNYA HINDU

”Hindu akan selalu ada selamanya yang akan terus dikagumi dan dihargai selama samudra dan gunung masih ada di atas bumi”, inilah kata- kata yang diungkapkan oleh seorang tokoh dunia Max Muller. Dalam mendukung kata- kata dari Max Muller tersebut, Hindu memiliki tiga pondasi kuat untuk selalu mengamalkan dan menjalankan ajaran agamanya. Ketiga hal tersebut dikenal dengan Tri Kerangka Agama Hindu. Yang terdiri dari tatva/ filsafat, susila/ etika dan upacara/ ritual. Jika diibaratkan seperti butir telur, tatva adalah bagian kuning, susila adalah putih telur dan upacara adalah kulit telur. Bila salah satu bagian ini tidak ada sebuah telur tidak akan menjadi sempurna. Begitu juga dengan tattva yang di dalamnya berhubungan dengan ajaran ke-Tuhanan Hindu, susila yang membahas mengenai etika kehidupan Hindu dan upacara yang membahas pelaksanaan ritual agama Hindu dalam Tri kerangka Agama Hindu tidak bisa dilepaskan antara satu dengan yang lainnya, semua saling berhubungan dan mengisi.
Hakikat ke-Tuhanan atau tattva menurut agama Hindu dapat dilihat menjadi dua bagian. Bagi mereka yang tinggi pengetahuan rohaninya Tuhan YME digambarkan dalam pikiran sebagai IMPERSONAL GOD (Tuhan tanpa wujud baik dalam pikiran maupun dalam kata-kata) , sedangkan bagi yang memiliki pemahaman sederhana, Tuhan YME digambarkan sebagai PERSONAL GOD ( Tuhan berpribadi dan digambarkan seabagai wujud yang Agung,Maha kasih,Maha besar,Maha suci,Luhur, dsb). Dari sinilah banyak macam bentuk dan cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Baik melalui meditasi, yoga, sembahyang, melafalkan mantra atau doa- doa suci baik dengan menggunakan sarana maupun tanpa menggunakan sarana.
Untuk membuka pintu gerbang kehadirat Sang Hyang Widhi Wasa yang disimbolkan dengan aksara suci ”OM KARA ” atau AUM yang mempunyai nilai kekuatan suci yang digunakan untuk mengawali setiap mantram yang ada di kitab suci Weda. Karena tanpa ada aksara suci AUM  sebuah mantram tidak akan mempunyai makna. Tri aksara yang terdiri atas 3 huruf A,U dan M tersebut merupakan singkatan dari kata ANG yang merupakan simbol dari Dewa Brahma, UNG adalah simbol dari Dewa Wisnu, MANG adalah simbol dari Dewa Siwa. Yang juga dikenal dengan sebutan ”Tri Murti”, ketiga Dewa ini memiliki kekuatan sebagai Utptti (pencipta) , Sthiti (pemelihara) dan Pralina (Pelebur). Ketiga dewa di atas dan dewa-dewa yang lain di dalam agama Hindu merupakan percikan sinar suci dari Sang Hyang Widhi Wasa yang memiliki tugas sesuai manifestasinya masing-masing.
Oleh karena itu banyak terjadi kesalahan persepsi mengenai ”Tuhan” agama Hindu yang menganggap bahwa agama Hindu adalah agama Politheisme atau menyembah banyak Tuhan. Anggapan- anggapan seperti itu sebenarnya tidak benar, walaupun di dalam agama Hindu mengenal dan memuja banyak dewa tetapi pada hakikatnya semua dewa tersebut bersumber dari yang Esa, yaitu Sang Hyang Widhi Wasa. Hal tersebut dapat dibuktikan dan diketahuai dari beberapa sloka yang ada di dalam kitab suci Weda, diantaranya sebagai berikut:
”Indram mitram varunam agnim ahur atha
 divyah sa suparno garutman,
 ekam sadvipra bahudha vadanti agnim yamam
 matarisvanam ahuh ”
artinya:
Mereka menyebutnya dengan Indra, Mitra, Varuna dan Agni. Ia yang bersayap keemasan Garuda, Ia adalah Esa, orang bijaksana (Maha Rsi) memberi banyak nama, mereka menyebutnya Indra, Yama, Matarisva (Rg Weda. I.164. 46 ).
 Dari salah satu sloka suci tersebut di atas dapat kita ketahui bahwa Tuhan agama Hindu adalah Esa, tetapi  para Maha Rsi menyebutnya dengan banyak nama sesuai dengan manifestasi atau tugasnya
masing- masing. Inilah salah satu ajaran tattva/ filsafat agama Hindu yang menjadi landasan umat Hindu untuk selalu berbhakti kepada Tuhannya.
Agama bukan hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Tetapi agama untuk orang yang masih hidup, untuk keperluan hidup dan setelah ajal mejemputnya kelak. Semasih hidup seseorang perlu berhubungan dengan sesama dan lingkungannya. Berbagai ajaran agama yang ada dimuka bumi ini mengajarakan agar kita tidak sampai menyakiti dan merugikan orang lain sebaliknya kita mesti mengasihi, saling membantu dan segala hal yang dirujuk sebagai tingkah laku yang baik dan benar, dan itulah yang disebut susila.
Umat Hindu memandang Tuhan, Maha suci, Maha pengasih dan sama sekali tidak menampakkan sifat-sifat kediktatoran, walaupun Ia Maha kuasa. Justru karena ke Maha kuasaan-Nyalah Beliau mampu mengatur alam semesta ini dengan hukum-hukum yang diciptakan-Nya sendiri. Hukum yang mengatur tingkah laku manusia, dikenal sebagai hukum karma. Dalam ajaran agama Hindu banyak sekali ajaran mengenai kesusilaan atau etika seperti contohnya, Tri Kaya Parisudha atau tiga perbuatan baik dan benar yang harus dilaksanakan ketiganya itu adalah berkata,berbuat,dan berfikir yang baik dan benar, Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia yang harus dikendalikan, Sad Atatayi atau enam macam pembunuhan yang patut dihindari oleh manusia dan masih banyak lagi ajaran susila dalam agama Hindu. Ajaran moralitas, budi pekerti adalah kebutuhan umat manusia di dunia ini karena pada dasarnya kita adalah sama dan bersaudara. Agama Hindu menyebut hal ini dengan ”Tat Twam Asi” yang artinya : aku adalah kamu dan ”Vasudaiva Kutumbakam” yang artinya : kita semua bersaudara. Inilah esensi kesusilaan atau etika agama Hindu.
 Bagian terakhir dari Tri kerangka Agama Hindu adalah Upacara/ ritual yang merupakan hal paling menonjol dan mencolok yang dilaksanakan oleh umat Hindu diantara umat agama yang lainnya. Upacara/ ritual yang dilakukan ini sesuai dengan sastra- sastra yang ada di dalam kitab suci Weda, diantaranya dengan sembahyang Tri Sandya atau sembahyang tiga kali sehari, puasa dan meditasi atau ngebleng, dsb. Upacara atau ritual ini berhubungan erat dengan adanya upakara atau sarana upacara yang terdiri dari berbagai jenis sesaji yang beraneka ragam menurut kebiasaan masyarakat setempat. Ritual Hindu yang identik dengan banten/ sesaji adalah wujud umat Hindu menyatakan rasa terima kasih, syukur, suka cita mereka kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas anugrah yang telah diberikan kepada manusia.
Oleh karena itu dalam setiap upacara atau persembahyangan umat Hindu selalu menghaturkan banten/ sesaji, dari banten yang sederhana seperti susunan bunga dan buah yang indah juga merupakan ekspresi dari rasa kebenaran (Satwam), kesucian (Sivam) dan keindahan (Sundaram) sesuai dengan daerah masing- masing atau bahasa Jawanya ”deso mowo toto”. Karena Sang Hyang Widhi Wasa tidak melihat besar-kecilnya suatu yadnya umatnya tetapi lebih kepada rasa tulus dan keikhlasan kita dalam mempersembahkan yadnya itu sendiri. hal ini di tegaskan dalam sloka Bhagawadgita IX.26 yang berbunyi : ’Patram puspam phalam toyam, yo me bhaktya prayacchati, tad aham bhakty-upahtram, asnami prayatatmanah’ yang artinya: siapapun yang dengan sujud bhakti kepada-Ku mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, seteguk air, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.
Ketiga dasar dari Tri kerangka Agama Hindu inilah akan selalu menjadi pondasi kuat bagi agama dan umat Hindu akan selalu ada, dengan selalu mengikuti dan menyesuaikan perkembangan maupun kebutuhan umat manusia di semesta ini. Banggalah menjadi Hindu.(DEMON E)

Written by : Rinda Marestiani - Blogger

Assalamualaikum im Rinda. of Rinda Marestiani. Asli Blitar Jawa timur,,, '94 Generation. Memiliki Ibu yang luar biasa bernama Sudarwati dan Bapak super hebat bernama Suroso. Nah pada tanggal 15 Agustus 2014, tepatnya jika menurut kalender islam pas bulan syawal, di peristri sama lelaki hebat keturunan Madiun Sumbawa yang bernama Candra Aditya. Kesibukan saat ini full time be a lovely wife, learn blog, and 24 jam nemeni suami kerja. Thanks

Join Me On: Facebook | Twitter | Google Plus :: Thank you for visiting ! ::

0 comments:

Post a Comment