Hotel Aston Bandung

Hotel Aston Bandung

Aston Braga Hotel and Residence is a four star deluxe property offering both short and long stay accommodations. Tastefully furnished with Art Deco interior, the Aston Braga Hotel and Residence offers the best of a modern City Hotel and Apartment.

The guest rooms are carefully designed and decorated to build up a cozy ambiance of an exclusive place to stay for family, business and leisure travelers.

Each of these 161 luxuriously appointed rooms is well furnished with bedroom, bathroom, living room, kitchenette and dining area.


Central Lokation
Prominent location in the heart of Bandung, the Aston Braga Hotel & Residences allows guests to enjoy their stay for either business or pleasure with easy access along Braga Road, restaurants and shopping malls. Aston Braga have access from 2 (two) main road, Jl. Braga and Jl. Suniaraja.


Braga City Walk

Adjacent to Braga Citywalk Mall BCW
Jl. Braga - Bandung





View Aston International Managed Properties in a larger map

TOP 10 ATTRACTIONS


Braga City Walk

Adjacent to Braga Citywalk Mall BCW
Jl. Braga - Bandung





Trans Studio

Jl. Gatot Subroto 289 Bandung

Trans Studio’s largest Indoor Theme Park is advertised as “An Integrated World Class Family Entertainment Center”.


Tangkuban Perahu Crater

Mt. Tangkuban Perahu is an interesting destination that everyone in the Bandung area is fond of visiting.
When seen from Bandung, Mt. Tangkuban Perahu has a distinctive shape, like an upside down boat.

Tangkuban Perahu means in fact "up-turned boat".


Saung Angklung Udjo

Jl. Padasuka 118 Bandung

Traditional music from West Java.

Here you will find the Sudanese traditional bamboo musical concert performed by a small group of children with colorful and beautiful dances.
Saung Angklung Udjo also presents selections of bamboo art performances and traditional dances.


Paris Van Java Mall

Jl. Sukajadi No. 136-139
Bandung

Paris Van Java has a unique concept with an open-air resort layout.
The resort and lifestyle place contains around 200 tenants that offer different types of products and services.


Kampung Daun Restaurant

Jl. Sersan Bajuri 88 KM 4,7 Lembang, Bandung

This is an eating place located inside a huge forest.
The restaurant is located along a 200m stretch of a gentle waterfall. Each table inside a village hut made of natural materials is situated approximately 10 meters apart from each other what gives a private atmosphere.

The Secret Factory outlet

Jl Martadinata 47
Bandung


Gedung Merdeka

Walking distance to one of Bandung heritage

Jl. Asia-Afrika 65 Bandung

West on Jalan Asia Afrika is the Gedung Merdeka also known as the Asia Afrika building. Originally built in 1895 the Gedung Merdeka houses an exhibition of photographs of the first Non-Aligned Movement conference in 1955.


Pasar Baru

Jl Otto Iskandardinata
Bandung

Pasar Baru is a 7 storey building where bargaining is a must. The sheer volume of traders and customers at this place is overwhelming.


Train Station

Jl. Kebon Kawung - Bandung
Phone: (+62-22) 420 3367






source: http://www.aston-international.com/ourhotels_overview.php?id=Mjc=

Marina Bay, Tongkrongan Mewah Singapura

Tongkrongan di Singapura, meski luas wilayahnya mungil, terus bertambah terutama di daerah Marina Bay. Keluar dari stasiun MRT Raffles Place, saya menyusuri Esplanade (lumayan jauh berjalan kaki tapi menyenangkan sebab bebas debu).

Saya berhenti sejenak di patung Merlion baru yang terletak di One Fullerton. Dari Esplanade, saya melanjutkan ke Helix Bridge dan stadion Youth Olympic Park — tempat pertandingan Youth Olympic Games.
Arsitektur Helix Bridge, jembatan sepanjang 280 meter, memang keren banget. Bentuk spiral dan warna metalik jembatan memberi kesan futuristis. Lampu-lampu kecil yang mulai menyala memberi kesan megah. Pemandangan sepanjang menyusuri jembatan yang menghubungkan Esplanade dan The Shoppes Marina Bay ini juga keren.

Di sebelah kiri ada Singapore Eye yang kokoh. Pemandangan di kanan? Jejeran gedung perkantoran menjulang tinggi dengan arsitektur modern dan unik, ditambah patung Merlion dan dua kubah durian metalik Esplanade. Plus, teluk yang tenang.
Menikmati pemandangan seperti itu jadi satu kemewahan. Perasaan jadi sangat relaks, sambil menikmati hembusan angin semilir.

Di depan mal The Shoppes, tersedia tempat luas untuk pejalan kaki menikmati pemandangan. Beberapa orang memanfaatkannya sebagai tempat anjing mereka berjalan-jalan atau joging sore. Masih satu bagian dengan Marina Bay Sands, terdapat Art Science Museum yang desain gedungnya menyerupai bunga teratai.

Puas menikmati pemandangan, saya masuk ke The Shoppes untuk cuci mata. Jajaran butik mewah membuat dompet saya takut. Hanya harga-harga makanan di pujasera Makansutra yang terjangkau kantong (meski harganya rata-rata lebih mahal S$ 1-2 dari pujasera lain).
Berhubung masih banyak butik dan toko yang belum buka, saya mengunjungi kasino di The Shoppes, yang disebut-sebut sebagai kasino paling mewah di Asia. Meja-meja permainan kartu begitu mewah, begitu juga mesin-mesin jackpot-nya. Sepertinya kebanyakan kasino, larangan memotret terlihat dimana-mana. Padahal, mesin slot dan meja judinya terlihat megah jika dilihat dari atas. Turis yang hendak masuk kasino harus menunjukkan paspor.

Setelah puas berkeliling, saya buru-buru keluar dari kawasan The Shoppes untuk menyeberang menuju Hotel Marina Bay Sands. Saya penasaran dengan kolam renangnya yang terletak di lantai 57, lantai paling tinggi di hotel itu.
Tinggi hotel ini mungkin masih kalah tinggi dengan Stamford Swiss Hotel yang mencapai 66 lantai, di seberang teluk. Tapi, memang pemandangan Singapura dari kolam renang Infinity Pool amat menakjubkan. Begitu keluar dari lift, melihat hamparan kolam dan langit, saya langsung berdecak kagum. Jejeran pohoh palem bikin pemandangan indah. Saya langsung selonjoran dengan nyaman di bangku panjang di pinggir kolam.
Hotel ini terdiri dari tiga menara dan diatasnya disambungkan oleh teras seluas satu hektar yang disebut Sky Park. Selain kolam renang, ada restoran The Sky atau klub malam tetapi bisa juga jadi tempat nongkrong seru di siang hari: Ku De Ta. Jika hanya ingin melihat-lihat, kita bisa langsung terus ke bagian lapangan luar yang ditopang oleh menara tiga. Jika berdiri di ujung, serasa seperti Kate Winslet dan Leo DiCaprio di salah satu adegan “Titanic”.

Sebagai teman menikmati pemandangan, saya memesan minuman Singapore Sling. Dalam hati saya berujar, “Saya memang tidak mampu menginap di hotel ini, tapi setidaknya sudah merasakan keindahan kolam renang dan minumannya.”

Wisata Air Terjun di Indonesia

Wisata Air Terjun di Indonesia
Air yang tumpah dari ketinggian tebing-tebing batu menjadi pemandangan indah. Di bawahnya, orang berkerumun dan siap bermain pancuran alami atau berenang di kolam yang sejuk. Di berbagai tempat di Indonesia, air terjun selalu menjadi objek wisata alam yang menarik.

Inilah beberapa air terjun yang terkenal karena keunikannya.


Lembah Anai
Terletak di tepi Jalan Raya Padang-Bukittinggi, air terjun ini sebenarnya terletak di kawasan cagar alam Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Di sekitar air terjun terdapat monyet yang berkeliaran. Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 60 meter ini punya pemandangan luar biasa. Pada saat liburan, air terjun ini dikunjungi oleh ratusan pengunjung. Foto: Antara/Iggoy el Fitra


Moramo
Keunikan air terjun ini adalah tingkat-tingkatannya. Air terjun Moramo terletak di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Ada yang menghitung tujuh tingkat, ada yang menghitung 10 tingkat. Kurang lebih, air akan jatuh berturutan dari ketinggian 100 meter. Konon, air terjun yang terletak di hutan suaka alam Tanjung Peropa ini juga terkenal akan legenda tempat mandi bidadari. Foto: Antara/Zabur Karuru


Resun
Air terjun Resun terletak di Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Airnya berasal dari sungai-sungai yang mengairi Gunung Daik dan banyak dikunjungi wisatawan lokal saat hari libur. Kawasan Gunung Daik (1165 mdpl) dengan tiga cabang pun sebenarnya bisa menjadi tujuan pendakian. Selain Gunung Daik dan air terjun Resun, ada juga tempat pemandian putri Sultan Mahmud Muhazam Syah, Batu Babi dan Batu Buaya (karena berbentuk mirip seperti babi dan buaya), Batu Belah, pemandian Lubuk Papan dan air terjun Cik Latif. Foto: Antara/Feri


Jembatan Batu
Air terjun Jembatan Batu terletak di Halmahera Utara, Maluku Utara. Sebenarnya air terjun ini tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 10 meter. Tetapi yang istimewa adalah — seperti namanya — bebatuannya berbentuk seperti jembatan batu alami. Selain itu, ada air terjun mini lain yang memungkinkan aktivitas panjat tebing seperti foto di atas. Foto: Tempo/Arie Basuki


Taman Nasional Bantimurung
Air terjun setinggi 15 meter dengan lebar 20 meter ini memberikan daerah yang luas bagi pengunjung untuk menikmati curahan air sejuk. Di sekitar air terjun, terdapat cekungan-cekungan sungai yang biasa dimanfaatkan pengunjung sebagai tempat berenang. Selain menikmati keindahan air terjun, pengunjung Taman Nasional Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan, juga bisa mengunjungi Gua Mimpi yang terkenal dengan stalaktit beningnya. Bantimurung juga terkenal sebagai “Kerajaan Kupu-kupu” karena taman ini adalah habitat bagi ribuan kupu-kupu. TEMPO/ Ayu Ambong



source: http://id.custom.yahoo.com/paling-indonesia/jalanjalan-kuliner-artikel/article-wisata-air-terjun-di-indonesia-291

All of Blitar


Lihat Peta Lebih Besar


Blitar, Blitar adalah nama dari sebuah kota tempat lahirnya Prsiden Pertama Republik Indonesia yaitu Ir. Soekarno. Kota ini terletak di Provinsi Jawa Timur. Blitar memiliki benyak cerita dan tempat wisata. Berikut ini merupakan sedikit ulasan tentang Kota Blitar.


Legenda Kota Blitar
Seperti diketahui, menurut sejumlah buku sejarah, terutama buku Bale Latar, Blitar didirikan pada sekitar abad ke-15. Nilasuwarna atau Gusti Sudomo, anak dari Adipati Wilatika Tuban, adalah orang kepercayaan Kerajaan Majapahit, yang diyakini sebagai tokoh yang mbabat alas. Sesuai dengan sejarahnya, Blitar dahulu adalah hamparan hutan yang masih belum terjamah manusia. Nilasuwarna, ketika itu, mengemban tugas dari Majapahit untuk menumpas pasukan Tartar yang bersembunyi di dalam hutan selatan (Blitar dan sekitarnya). Sebab, bala tentara Tartar itu telah melakukan sejumlah pemberontakan yang dapat mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Singkat cerita, Nilasuwarna pun telah berhasil menunaikan tugasnya dengan baik Bala pasukan Tartar yang bersembunyi di hutan selatan, dapat dikalahkan.

Sebagai imbalan atas jasa-jasanya, oleh Majapahit, Nilasuwarna diberikan hadiah untuk mengelola hutan selatan, yakni medan perang yang dipergunakannya melawan bala tentara Tartar yang telah berhasil dia taklukkan. Lebih daripada itu, Nilasuwarna kemudian juga dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar I dengan daerah kekuasaan di hutan selatan. Kawasan hutan selatan inilah yang dalam perjalanannya kemudian dinamakan oleh Adipati Ariyo Blitar I sebagai Balitar (Bali Tartar). Nama tersebut adalah sebagai tanda atau pangenget untuk mengenang keberhasilannya menaklukkan hutan tersebut.


Sejak itu, Adipati Ariyo Blitar I mulai menjalankan kepemimpinan di bawah Kerajaan Majapahit dengan baik.  Dia menikah dengan Gutri atau Dewi Rayung Wulan, dan dianugerahi anak Djoko Kandung. Namun, di tengah perjalanan kepemimpinan Ariyo Blitar I, terjadi sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Ki Sengguruh Kinareja, yang tidak lain adalah Patih Kadipaten Blitar sendiri. Ki Sengguruh pun berhasil merebut kekuasaan dari tangan Adipati Ariyo Blitar I, yang dalam pertempuran dengan Sengguruh dikabarkan tewas. Selanjutnya Sengguruh memimpin Kadipaten Blitar dengan gelar Adipati Ariyo Blitar II. Selain itu, dia juga bermaksud menikahi Dewi Rayungwulan. Mengetahui bahwa ayah kandungnya (Adipati Ariyo Blitar I) dibunuh oleh Sengguruh atau Adipati Ariyo Blitar II maka Djoko Kandung pun membuat perhitungan. Dia kemudian melaksanakan pemberontakan atas Ariyo Blitar II, dan berhasil. Djoko Kandung kemudian dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar III. Namun sayangnya dalam sejarah tercatat bahwa Joko Kandung tidak pernah mau menerima tahta itu, kendati secara de facto dia tetap memimpin warga Kadipaten Blitar.


Sejarah Kota Blitar
Pada fase “kepemimpinan” Djoko Kandung, atau Adipati Ariyo Blitar III, pada sekitar tahun 1723 dan di bawah Kerajaan Kartasura Hadiningrat pimpinan Raja Amangkurat, Blitar jatuh ke tangan penjajah Belanda. Karena Raja Amangkurat menghadiahkan Blitar sebagai daerah kekuasaannya kepada Belanda yang dianggap telah berjasa membantu Amangkurat dalam perang saudara termasuk perang dengan Ariyo Blitar III yang berupaya merebut kekuasaannya. Blitar pun kemudian beralih kedalam genggaman kekuasaan Belanda, yang sekaligus mengakhiri eksistensi Kadipaten Blitar sebagai daerah pradikan.

Penjajahan di Blitar berlangsung dalam suasana serba menyedihkan karena memakan banyak korban, baik nyawa maupun harta dan akhirnya rakyat Blitar pun kemudian bersatu padu dan bahu membahu melakukan berbagai bentuk perlawanan kepada Belanda. Dan untuk meredam perlawanan rakyat Blitar, pada tahun 1906 pemerintahan kolonial Belanda mengeluarkan sebuah Staatsblad van Nederlandche Indie Tahun 1906 Nomor 150 tanggal 1 April 1906, yang isinya adalah menetapkan pembentukan Gemeente Blitar. Momentum pembentukan Gemeente Blitar inilah yang kemudian dikukuhkan sebagai hari lahirnya Kota Blitar. Pada tahun itu juga dibentuk beberapa kota lain di Indonesia antara lain kota Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Cheribon, Magelang Semarang, Madioen, Blitar, Malang, Surabaja dan Pasoeroean.

Pada tahun 1928, Kota Blitar pernah menjadi Kota Karisidenan dengan nama "Residen Blitar", dan berdasarkan Stb. Tahun 1928 Nomor 497 Gemeente Blitar ditetapkan kembali. Pada tahun 1930, Kotaparaja Blitar sudah memiliki lambang daerah sendiri. Lambang itu bergambar sebuah gunung dan Candi Penataran, dengan latar belakang gambar berwarna kuning kecoklatan di belakang gambar gunung –yang diyakini menggambarkan Gunung Kelud dan berwarna biru di belakang gambar Candi Penataran. Alasan yang mendasarinya adalah Blitar selama ini identik dengan Candi Penataran dan Gunung Kelud. Sehingga, tanpa melihat kondisi geografis, lambang Kotapraja Blitar pun mengikuti identitas itu.

Pada tahun 1942, Jepang berhasil menduduki Kota Blitar dan istilah Gementee Blitar berubah menjadi “Blitar Shi”, yang diperkuat dengan produk hukum yang bernama Osamu Seerai. Di masa ini, penjajah Jepang menggunakan isu sebagai saudara tua bangsa Indonesia, Kota Blitar pun masih belum berhenti dari pergolakan. Bukti yang paling hebat, adalah pemberontakan PETA Blitar, yang dipimpin Soedancho Suprijadi. Pemberontakan yang terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 itu, merupakan perlawanan yang paling dahsyat atas kependudukan Jepang di Indonesia yang dipicu dari rasa empati serta kepedulian para tentara PETA atas siksaan –baik lahir maupun batin- yang dialami rakyat Indonesia oleh penjajah Jepang.

Konon kabarnya, menurut Cindy Adams di dalam otobiografi Bung Karno, pada tanggal 14 Februari 1945 itu pula, Soeprijadi dan kawan-kawan sebelum melakukan pemberontakan, sempat berdiskusi tentang rencana pemberontakan ini dengan Ir. Soekarno yang ketika itu tengah berkunjung ke Ndalem Gebang. Namun Soekarno ketika itu tidak memberikan dukungan secara nyata karena Soekarno beranggapan lebih penting untuk mempertahankan eksistensi pasukan PETA sebagai salah satu komponen penting perjuangan memperebutkan kemerdekaan.

Di luar pemberontakan yang fenomenal itu, untuk kali pertamanya di bumi pertiwi ini Sang Saka Merah Putih berkibar. Adalah Partohardjono, salah seorang anggota pasukan Suprijadi, yang mengibarkan Sang Merah Putih di tiang bendera yang berada di seberang asrama PETA. Kini tiang bendera itu berada di dalam kompleks TMP Raden Widjaya, yang dikenal pula sebagai Monumen Potlot.

Pemberontakan PETA ini walaupun dari sisi kejadiannya terlihat kurang efektif karena hanya berlangsung dalam beberapa jam dan mengakibatkan tertangkapnya hampir seluruh anggota pasukan PETA yang memberontak, kecuali Suprijadi, namun dari sisi dampak yang ditimbulkan peristiwa ini telah mampu membuka mata dunia dan menggoreskan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia karena peristiwa tersebut merupakan satu-satunya pemberontakan yang dilakukan oleh tentara didikan Jepang.

Beberapa saat setelah pemberontakan PETA Blitar, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno – Hata memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Rakyat Kota Blitar pun menyambutnya dengan gembira. Sebab, hal inilah yang ditunggu-tunggu dan justru itulah yang sebetulnya menjadi cita-cita perjuangan warga Kota Blitar selama ini. Karena itu, rakyat Kota Blitar segera mengikrarkan diri berada di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Sebagai bukti keabsahan keberadaan Kota Blitar dalam Republik Indonesia, Pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1945 tentang perubahan nama “Blitar Shi” menjadi "Kota Blitar".

Sejarah Pemerintahan Kota Blitar
Berdasarkan hasil penelitian dan penelusuran Team Hari Jadi Kotamadya Daerah Tingkat II Blitar yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Blitar Nomor 262 tahun 1988 tertanggal 31 Desember 1988, maka berdasarkan dokumen dan testament yang ada, dapatlah diketahui bahwa penetapan Hari Jadi Kota Blitar adalah sebagai berikut :

  1. Gemeente Blitar dibentuk berdasarkan “Staatsblad van Nederlandsche Indie” tahun 1906 Nomor 150 tertanggal 1 April 1906;
  2. Jadi tanggal 1 April 1906, merupakan penetapan berdirinya Gemeente Blitar yang dapat dipastikan kebenarannya, bahwa:
  • Wilayah ibukota (Kabupaten) Blitar, lewat Undang-undang diputuskan menjadi Gemeente (Kotapraja) Blitar ;
  • Gemeente Kotapraja) Blitar, oleh pemerintah pusat setiap tahun diberikan subsidi sebesar 11,850 golden ;
  • Gemeente Kotapraja) Blitar, dibebani kewajiban-kewajiban dan diberikan wewenang secara terinci;
  • Bagi Gemeente (Kotapraja) Blitar, diadakan suatu dewan yang dinamakan “Dewan Kotapraja Blitar” dengan jumlah anggota 13 orang ;
  • Undang-undang pembentukan Kotapraja Blitar mulai berlaku tanggal 1 April 1906.

Jika memperhatikan pertembuhan dan perkembangan, maka selama perjalanan sejak 1 April 1906 Kota Blitar mengalami perubahan status pemerintahan sebagai berikut :

  1. Kota Blitar pertama dibentuk berdasarkan Stbld tahun 1906 nomor 150 jo, Stbld 497 tahun 1928 dengan nama Gemeente Blitar dengan luas wilayah 6,5 Km2 dan jumlah penduduk 35.000 jiwa ;
  2. Dalam tahun 1928 Kota Blitar pernah menjadi Kota Karesidenan dengan nama “Residensi Blitar: dan berdasarkan Stbld nomor 497 tahun 1928 penetapan kembali Gemeente Blitar ;
  3. Pada jaman Jepang tahun 1942 berdasarkan Osomu Seerai dengan nama “Blitar-Shi” dengan luas wilayah 16,1 Km2 dan jumlah penduduk 45.000 jiwa ;
  4. Sejak kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 berdasarkan Undang-undang nomor 22 tahun 1945 dengan nama “Kota Blitar” luas wilayah 16,1 Km2 dan jumlah penduduk 45.000 jiwa ;
  5. Berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang nomor 17 tahun 1950 dengan nama Blitar dibentuk sebagai daerah Kota Kecil ;
  6. Berdasarkan Undang-undang nomor 1 tahun 1957 dengan nama Kotapraja Blitar, luas wilayah 16,1 Km2 dan jumlah penduduk 60.000 jiwa ;
  7. Berdasarkan Undang-undang Nomor 18 tahun 1965 ditetapkan dengan nama “Kotamadya Blitar” dengan luas wilayah 16,1 Km2 dan jumlah penduduk 73.142 jiwa;
  8. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1982, luas wilayah Kotamadya Blitar dimekarkan menjadi 3 (tiga) kecamatan dengan 20 kelurahan. A.Luas daerah : lama (1 kecamatan = 16,1 Km2) baru (3 kecamatan = 32,369 Km2) B.Jumlah penduduk tahun 1982 = 106.500 jiwa C.Jumlah penduduk sampai dengan tahun 2003 adalah 124.767 jiwa
  9. Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 nama Kotamadya Blitar disesuaikan dan diganti dengan nama Kota Blitar hingga sekarang.



Pejabat Pemerintahan Kota Blitar
- Jaman Pemerintahan Hidia Belanda
  • Th. J. Cathero. Jabatan : Asisten Residen Kediri di Blitar yang merangkap de burgermester di Blitar s/d tahun 1942.
  • Th. J. Boerstra. Jabatan : Asisten Residen Kediri di Blitar

- Jaman Pemerintah Jepang
  • Drajat Prawiro Soebroto. Jabatan : Shi-tjok Blitar tahun 1942-1943
  • Soedrajat. Jabatan: Shi-tjok Blitar tahun 1943-1944
  • Mochtar Prabu Mangkunegoro. Jabatan : Shi-tjok Blitar tahun 1944-1945

- Jaman Kemerdekaan s.d Sekarang
  • Soerono Harsono. Jabatan : Walikota Blitar tahun 1945-1947
  • Soenarjo Adiprodjo. Jabatan : Walikota Blitar tahun 1947-1948
  • Soenarjo. Jabatan : Pjs. Walikota Blitar tahun 1948
  • Soetadji. Jabatan : Walikota Blitar tahun 1949-1950
  • R. Ismaoen Danoe Soesastro. Jabatan : Walikota Blitar tahun 1953-1956
  • Soeparngadi. Jabatan : Walikota Blitar tahun 1956-1960
  • R. Koesmadi. Jabatan : Walikota Kepala Daerah tahun 1960-1964 Daerah Kota Blitar
  • Rm. Prawiro Fakhihudin. Jabatan : Walikotamadya tahun 1968; Kdh. Tk. II Blitar
  • Drs. Soerjadi. Jabatan : Walikotamadya tahun 1969-1975; Kdh. Tk. II Blitar
  • Drs. Soekirman. Jabatan : Walikotamadya tahun 1975-1980 dan tahun 1980-1985 (2 periode)
  • Drs. Haryono Koesoemo. Jabatan : Walikotamadya tahun 1985-1990; Kdh. Tk. II Blitar
  • Drs. H. Achmad Boedi Soesetyo. Jabatan : Walikotamadya tahun 1990-1995; Kdh. Tk. II Blitar
  • H. Istijono Soenarto, SH. Jabatan : Walikota Blitar tahun 1995-2000; Kdh. Tk. II Blitar
  • Drs. H. Djarot Saiful Hidayat, MS. Jabatan : Walikota Blitar tahun 2000-2005 dan tahun 2006-2010 (2 periode)
  • Muhammad Samanhudi Anwar, SH, MM. Jabatan : Walikota Blitar tahun 2010-sekarang.

Gambaran Umum Kota Blitar

a) Sekilas Tentan Kota Blitar
Kota Blitar yang juga dikenal dengan sebutan Kota Patria , Kota Lahar dan Kota Proklamator secara legal-formal didirikan pada tanggal 1 April 1906. Dalam perkembangannya kemudian momentum tersebut ditetapkan sebagai Hari Jadi kota Blitar. Walaupun status pemerintahannya adalah Pemerintah Kota, tidak serta-merta menjadikan mekanisme kehidupan masyarakatnya seperti yang terjadi dikota -kota besar. Memang ukurannya pun tidak mencerminkan sebuah kota yang cukup luas. Level yang dicapai kota Blitar adalah sebuah kota yang masih tergolong antara klasif ikasi kota kecil dan kota besar. Secara faktual sudah bukan kota kecil lagi, tetapi juga belum menjadi kota besar.

Membicarakan Kota Blitar, tidaklah lengkap kalau tidak menceritakan semangat kejuangan yang tumbuh berkembang dan kemudian terus menggelora serta menjiwai seluruh proses kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di kota ini. Di kota ini tempat disemayamkan Bung Karno, Sang Proklamator, Presiden Pertama RI, idiolog dan pemikir besar dunia yang dikagumi baik oleh masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia. Kota Blitar juga merupakan salah satu tempat bersejarah bagi Bangsa Indonesia, dimana sebelum dicetuskannya Proklamasi ditempat ini telah diserukan kemerdekaan Indonesia yang diikuti dengan pengibaran Sang Merah Putih yang kemudian berujung pada Pemberontakan PETA oleh Sudanco Supriyadi.

Masyarakat kota Blitar sangat bangga sebagai pewaris Aryo Blitar, pewaris Soeprijadi dan pewaris Soekarno, yang nationalistic - patriotic. Pemerintah Kota Blitar sadar akan hal ini, semangat itu dilestarikan dan dikobarkan, dimanfaatkan sebagi modal pembangunan ke depan. Tidak heran kalau akronim PATRIA dipilih sebagai semboyan. Kata PATRIA ini disusun dari kata PETA, yang diambil dari legenda Soedanco Soeprijadi yang memimpin pemberontakan satuan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar pada Jaman Penjajahan Jepang, serta dari kata Tertib, Rapi, Indah, dan Aman. Selain itu, kata PATRIA memang sengaja dipilih karena didalamnya mengandung makna " Cinta tanah air . Sehingga dengan menyebut kata PATRIA orang akan terbayang kobaran semangat nasionalisme yang telah ditunjukkan oleh para patriot bangsa yang ada di kota Blitar melalui roh perjuangannya masing-masing.


b) Letak Geografis Kota Blitar
Kota Blitar merupakan salah satu daerah di wilayah Propinsi Jawa Timur yang secara geografis terletak diujung selatan Jawa Timur dengan ketnggian 156 m dari permukaan air laut, pada koordinat 112° 14 - 112° 28 Bujur Timur dan 8° 2 - 8° 10 Lintang Selatan, memiliki suhu udara cukup sejuk rata-rata 24° C- 34° C karena Kota Blitar berada di kaki Gunung Kelud dan dengan jarak 160 Km arah tenggara dari Ibukota Propinsi Surabaya.


Kota Blitar merupakan wilayah terkecil kedua di Propinsi Jawa Timur setelah Kota Mojokerto. Wilayah Kota Blitar dikelilingi oleh Kabupaten Blitar dengan batas:
  • Sebelah Utara : Kecamatan Garum dan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar
  • Sebelah Timur: Kecamatan Kanigoro dan Kecamatan Garum Kabupaten Blitar
  • Sebelah Selatan : Kecamatan Sanankulon dan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar
  • Sebelah Barat : Kecamatan Sanankulon dan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.

Kota Blitar dengan luas wilayah kurang lebih 32,58 km2 terbagi habis menjadi tiga Kecamatan yaitu :
  • Kecamatan Sukorejo dengan luas 9,93 km2,
  • Kecamatan Kepanjenkidul 10,50 km2,
  • Kecamatan Sananwetan 12,15 km2.
Dari tiga Kecamatan tersebut, habis terbagi menjadi 21 Kelurahan.

Dilihat dari kedudukan dan letak geografisnya, Kota Blitar tidak memiliki sumber daya alam yang berarti, karena seluruh wilayahnya adalah wilayah perkotaan, yang berupa pemukiman, perdagangan, layanan publik, sawah pertanian, kebun campuran dan pekarangan. Oleh karena itu, sebagai penggerak ekonomi Kota Blitar mengandalkan Potensi diluar sumber daya alam, yaitu sumber daya manusia dan sumber daya buatan.

Semua Tempat Wisata Kota Blitar
Untuk melihat selusruh tempat wisata di kota blitar langsung saja nih klik disini

Peta Wisata kota Blitar

Potensi kota Blitar
Dari sumber daya alam yang ada Blitar mempunyai banyak potensi. Blitar Bagian Utara mulai dari Sungai Brantas ke arah utara sampai ke Gunung Kelud merupakan daerah subur. Keadaan tanah di daerah tersebut kebanyakan berupa tanah vulkanik yang mengandung abu letusan G. Kelud ditambah dengan pasokan air dari sungai yang berasal dari gunung yang kaya mineral sehingga cocok untuk bercocok tanam padi, sayur-mayur, buah-buahan, tebu, tembakau dll. Sehingga bidang perikanan, pertanian dan perkebunan lebih mendominasi. Sedangkan Blitar bagian selatan mulai dari sungai Brantas ke arah selatan sampai ke laut selatan (sering disebut Blitar Selatan) kebanyakan tanahnya berjenis grumusol. Tanah semacam ini hanya produktif bila dimanfaatkan untuk menanam ketela pohon, jagung, dan jati ditambah lagi daerah ini termasuk sulit untuk mendapatkan air bersih sehingga peternakan dan pertambangan lebih dikembangkan

Potensi Kota Blitar
  1. Industri Kecil kota Blitar: a. Sabut Kelapa Blitar, >> b.Gula Jawa Blitar, >> c.Kerajinan Kayu Blitar
  2. Pertanian Kota Blitar: a. Semangak Tanpa Biji Blitar, >> b.Gula Kelapa Blitar, >> c. Nanas
  3. Perkebunan Kota Blitar: a. Serat Nanas Blitar, >> b.Bibit Tanaman buah Blitar, >> c. Perkebunan Karet, >> d.Perkebunan Kakao, >> e.Perkebunan Teh, >> f.Perkebunan Kopi
  4. Perikanan Kota Blitar: a.Budidaya Ikan Konsumsi, >> b.Budidaya Lobster Air tawar, >> c.Budidaya Ikan koi, >> d.Hasil Laut
  5. Pertenakan Kota Blitar: a.kelinci Blitar, >> b.Peternakan Sapi Perah, >> c.Peternakan Ayam Pedaging, >> d.Sentra industri Telur Ayam
  6. Pertambangan kota Blitar: a.Pasir Kuarsa, >> b.Kaolin
  7. Jasa: a.Pelukis Blitar
Nahh.. sekian dulu temen-temen ulasan tentang Kota Blitar, bagaimana menarik bukan, ternayta banyak yang berpotensi dari kota patria ini. Terimakasih atas kunjungannya dan tunggu berita terbaru lagi dari Kota Blitar disini.

The World's First Solar-powered Stadium in Taiwan

The World's First Solar-powered Stadium in Taiwan
Taiwan recently finished construction on a solar-powered stadium that will generate 100% of its electricity from photovoltaic technology Designed by Toyo Ito, the 50,000-seat arena that officially the 2009 World Games which features many sports not included in the Olympics Such as parachuting, tenpin bowling and rugby sevens.


This is so amazing, an incredible technology the only one in the world and also the first in the world.

This images come from: http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=80773

Bunaken Island Marine Park

Bunaken Island Marine Park
Bunaken is a proud tourist attraction because it has been widely known even to foreign countries. The beauty of Bunaken Marine Park under continue to hypnotize the visitors.

Area of ​​8.08 km ² island in the Bay of Manado, located in the northern island of Sulawesi. This island is part daribunaken park city of Manado, North Sulawesi provincial capital. Park can be achieved by Speed ​​boat or a ship chartered by travel about 30 minutes from the port city of Manado. Besides easy access, around the island there are marine parks that are part of Manado Tua Marine National Park. This marine park has a marine biodiversity (biodiversity), one of the highest in the world.

Another thing that can be enjoyed, Bunaken marine park has a 20 point dive (dive spot) with varying depth of up to 1344 meters. Of the 20 diving points, 12 points among them diving around Bunaken Island. Twelve point dive is the most frequently visited by divers and lovers of the beauty of underwater scenery. Granted, the visitors will dimanjahkan with the natural beauty of the underwater











Most of the 12 point dive in Bunaken Island lined up from the southeast to the northwest of the island. In this region there are underwater great walls, which is also called the hanging walls, or a giant rock walls that stand vertically and curved upward. These rock walls are also a source of food for fish in the waters around Bunaken Island.

10 Geological Wonders of The World

The Wave (located between Arizona and Utah, USA)

Views are stunning red sandstone rocks on the border of Arizona and Utah. The Wave comes from the sand dunes about 190 million years old that have been turned into stone. Formation, which is rarely known this can only be reached by walking through traveling distance of 3 miles and without a hitch.

Giant Crystal Cave (Mexico)

Found deep inside a mine in southern Chihuahua Mexico, these crystals are formed in a cave covered with coral stone. A geodesic is full of amazing crystal-tall fir tree, and in some places around the crystal-clear that there are colored gold and silver with various shapes and forms are exceptional.
Giant crystal cave was found among the bodies of limestone, the same region the discovery of silver and tin ore that was exploited by the mine and the possible dissolution of the liquid produced from the same heat that keeps the metal with a cast that had crystallized during the shrinkage stage in the process of mineralization.

Antelope Valley (Arizona, USA)
 

Is a gap in the American Southwest the most often visited and perpetuated the image. Antelope Valley is located in mainland Navojo near Page, Arizona. It includes two separate parts of a beautiful valley, each referred to as Antelope Ravine top - or "The Crack" - and Antelope Ravine bottom - or "The Corkscrew".
Name Navojo for Antelope Ravine is bighanilini Tse, which means "place where water flowed through the stone." Antelope Ravine Hasdestwazi the bottom is, or "Spiral Stone Monument." Both are located in between LeChee Navojo Chapter in the State.

Eye Sahara (Mauritania)

Mainland spectacular area in Mauritania, south-western part of the Sahara desert is very big with a diameter of 30 miles that can be seen from space. Called Richat structure - or eye-Saharan - at first this formation is estimated to be caused by a meteorite collision, but geologists now believe it is the result of elevation and soil erosion. The cause of the circular shape remains a mystery.

Blue Lake Cave (Brazil)

Mato Grosso do Sul region in Brazil (and especially the quiet town of Bonito) boasts with many marvelous underground lakes: Gruta do Lago Azul, Gruta do Mimoso, Aquario Natural. The world famous "Gruta do Lago Azul" (Blue Lake Cave) is a natural cave which it formed part of stalactites, stalagmite, and there is a large blue lake and amazing.

The beauty of this lake is really something impressive. Blue Lake Cave has a great diversity of geological forms but the most memorable was the main dark blue water in the lake.




Giant Cross Roads (Ireland)

An area consisting of 40.000 volcanic rock which coincide with each other, Giant Path Road is the result of ancient volcanic explosion of lava. Located in north-east shore of Northern Ireland, most of the hexagon-shaped pillars, although there are some that have 4, 5, 7, and 8 sides.

The highest measuring 12 meters, and the lava that had hardened on the cliff of the hill as thick as 28 meters. In a 2005 poll by Radio Times readers, is trajectory Road dubbed as the fourth greatest natural wonder in the United Kingdom.


Great Blue Hole (Belize)

Part of the stone towers of fire, a large Blue Hole is located approximately 60 miles from the mainland out of Belize, South America. Circle big hole has an almost perfect across approximately one-quarter of 1 mile (0.4 km), he is one of the most amazing waterfalls that are found on Earth. In this hole, there is water within 480 feet (145 m) and depth of the water gives a dark blue-colored structure that causes the world called it the "Blue Hole".

Stone Waves (Australia)

Stone Waves is a natural rock formation located in Western Australia. The name was derived from the fact that it is shaped like a sea of ​​high waves. All parts of the surface covering several hectares, the "wave" of rock about 15 feet high and approximately 110 meters in length.

One aspect of the Stone Waves are rarely seen in the photo is about half the retaining wall to the top of the stone. Order to follow the boundary line and allow the rain water collected in a dam.

It was built in 1951 by the Department of Public Works, and the walls of this kind often found in many of the same rock in the area of ​​wheat.

Bukit Brown (Philippines)

There are several hypotheses regarding the formation of the hill. Covers damage to limestone that is simple, sub-sea volcanic, encouragement from the seabed and the theory recently that maintaining the principle that as an active volcano-self-destruct, it spewed huge blocks of stone which then vomit is coated with limestone and later pushed forward from the seabed.



Hell Gate (Uzbekistan)

Referred to by locals as the door to hell, this place is located near a small town Darvas in Uzbekistan. When geologists gas drilling 35 years ago, suddenly they find an underground cave is very large.

All of the drilling location with all the camping gear and plunged into the underground.
No one dared to come down because the cavern was filled with flammable gases, so they burn it so that no poisonous gas could come out through the hole, and since then he has been on fire. No one knows how many tons of incredible gas has been burned in those years but he is only seen without limit. (The Epoch Times Australia / win)